Bandung Menuju Kota Solidaritas: Inisiatif Sosial yang Makin Kuat di 2025
Frasa Bandung menuju Kota Solidaritas mendadak mengemuka. Bukan tanpa alasan, Kota Kembang memang sedang bertransformasi sebagai kota yang tidak hanya ramah wisatawan tapi juga inklusif.
Di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, hingga lingkungan saat ini, semangat solidaritas di Ibu Kota Jawa Barat menjadi fondasi baru untuk membangun Bandung yang lebih kuat dan berdaya.
Bandung menuju Kota Solidaritas adalah inisiatif yang bertujuan membangun kesadaran kolektif warga kota akan pentingnya saling membantu, mendukung keberagaman, serta memperkuat kolaborasi antarwarga.
Konsep ini mendorong berbagai pihak mulai dari pemerintah, komunitas, pelaku UMKM, hingga individu untuk aktif dalam menciptakan ruang-ruang sosial yang adil dan merata.
Lewat pendekatan partisipatif, daerah berjuluk Paris van Java ini ingin membuktikan bahwa kemajuan kota bukan hanya soal infrastruktur akan tettapi juga soal rasa kepedulian antar sesama.
Gagasan besar ini tentu tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kerja sama lintas sektor dan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Bandung sejak lama.
Dengan berbagai program seperti penguatan komunitas, edukasi inklusif, dan layanan publik berbasis empati, Bandung menuju Kota Solidaritas perlahan menjadi gerakan nyata.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memperkenalkan konsep “Kota Solidaritas” (Solidarity Cities) sebagai arah baru pembangunan kota yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Konsep ini mengusung semangat kebersamaan dan gotong royong untuk menciptakan kota yang berpihak pada semua warga, tanpa terkecuali.
“Kota Solidaritas adalah kota yang menolak sistem yang menyebabkan kemiskinan dan penderitaan, khususnya bagi kelompok yang terpinggirkan seperti imigran dan pengungsi,” kata Farhan pada kegiatan Ice (ITB Counting Education) Podcast di Rektorat ITB, Selasa 20 Mei 2025.
“Di Bandung kami ingin memastikan bahwa setiap orang punya hak yang sama untuk hidup, belajar, bekerja, dan berpartisipasi dalam kehidupan kota, tanpa memandang latar belakang,” ungkap Farhan menambahkan.
Ia mengungkapkan, prinsip utama Kota Solidaritas yaitu akses layanan publik. Setiap warga berhak atas pendidikan, kesehatan, air bersih, dan tempat tinggal yang layak.
“Ada juga Solidaritas Ekonomi dan Keadilan Sosial. Ini menghapus hambatan ekonomi dan sosial melalui kebijakan yang mendorong pemerataan, kolaborasi lokal-global, dan penguatan ekonomi kerakyatan,” bebernya.
Selanjutnya, pengelolaan kota yang dipimpin masyarakat. Mulai dari persampahan, air bersih, penanganan banjir dan pariwisata inklusif.
“Bandung siap jadi kota solidaritas. Kota Kembang memperkuat langkahnya melalui Pembangunan Infrastruktur dan Tata Kelola yang mendukung inklusi dan keadilan sosial,” tuturnya.
“Pembangunan Ekonomi Sosial dengan diplomasi internasional dan kolaborasi global,” imbuhnya.
Farhan mengatakan, tansformasi Kota Bandung menuju Kota Solidaritas juga ditopang oleh kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM).
Ia menjelaskan, integrasi pengembangan SDM dengan tantangan perkotaan. Mendorong tenaga kerja yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing.
Tak hanya itu, akses pelatihan, beasiswa, dan kerja sama internasional. Reformasi birokrasi dan tata kelola yang transparan dan melayani.
“Dengan berpikir sistemik, mengedepankan empati, dan kerja sama dari bawah ke atas, Bandung ingin mengubah tantangan kota menjadi peluang untuk pemberdayaan dan keberlanjutan,” jelasnya Farhan.
Bandung tidak hanya membangun kota, tapi juga membangun harapan. Kota yang menjunjung martabat semua warganya. Kota yang menjadi rumah bagi siapa pun.