Akhirnya Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook
Setelah melalui proses cukup panjang akhirnya Kejaksaan Agung RI menetapkan Nadiem Makarim tersangka korupsi laptop chromebook.
Kasus yang menyeret bekas anak buah Jokowi ini bermula dari program digitalisasi sekolah yang dicanangkan Kemendikbudristek pada 2019–2022.
Salah satu bagian penting program yang digagas Nadiem itu adalah pengadaan laptop Chromebook untuk sekolah-sekolah di berbagai daerah.
Nilainya fantastis, hampir Rp 9,9 triliun, yang terdiri dari Rp 3,58 triliun dari anggaran rutin dan Rp 6,39 triliun dari Dana Alokasi Khusus (DAK).
Kejaksaan Agung menemukan sejumlah kejanggalan. Meski uji coba laptop Chromebook pada 2019 gagal, proyek ini tetap dilanjutkan.
Bahkan, ada catatan rapat resmi antara Nadiem dengan pihak Google pada 2020 untuk membahas pengadaan TIK, termasuk Chromebook.
Dari sinilah dugaan penyalahgunaan kewenangan mulai mencuat. Hasil penyidikan sementara menunjukkan adanya indikasi praktik mark-up.
Selain itu pengadaannya tidak sesuai spesifikasi, hingga pengabaian hasil uji coba. Semua itu menyebabkan kerugian negara yang diperkirakan hampir Rp 1,98 triliun.
Pada Kamis 4 September 2025 Kejagung mengumumkan bahwa Nadiem Makarim tersangka korupsi dalam kasus pengadaan laptop Chromebook.
Tak hanya ditetapkan sebagai tersangka, Nadiem juga langsung ditahan di Rutan Salemba untuk mempermudah penyidikan.
Langkah ini cukup mengejutkan publik. Bagaimana tidak, Nadiem selama ini dikenal sebagai salah satu menteri muda yang punya citra bersih dan inovatif walau kontroversial.
Penahanannya sontak membuat ramai media sosial. Kata kunci “Nadiem Makarim tersangka korupsi” pun menjadi trending di Google dan X (Twitter).
Kejagung menegaskan bahwa penahanan ini dilakukan untuk mencegah tersangka menghilangkan barang bukti maupun memengaruhi saksi.
Kasus ini ternyata tidak hanya menyeret Nadiem seorang diri. Ada empat tersangka lain yang ikut ditetapkan:
-
Sri Wahyuningsih, mantan Direktur SD Kemendikbudristek.
-
Mulyatsyah, mantan Direktur SMP Kemendikbudristek.
-
Jurist Tan, mantan Staf Khusus Nadiem.
-
Ibrahim Arief, konsultan teknologi Kemendikbudristek.
Dengan banyaknya nama yang terlibat, publik makin yakin bahwa kasus ini memang besar dan sistematis.
Tak butuh waktu lama kabar Nadiem Makarim tersangka korupsi laptop langsung jadi bahan pembicaraan di berbagai platform.
Disatu sisi, banyak yang kaget karena Nadiem sebelumnya dianggap simbol inovasi anak muda Indonesia di pemerintahan.
Sebagian warganet merasa kecewa, sebagian lagi menganggap kasus ini sebagai pembelajaran penting bahwa siapa pun bisa tersandung hukum jika ada dugaan korupsi.
Media internasional pun mulai meliput, mengingat Nadiem adalah figur yang pernah mendapat sorotan global lewat Gojek dan program pendidikan digital.
Kasus ini tentu punya dampak besar terhadap kepercayaan publik pada program digitalisasi sekolah. Laptop Chromebook yang digadang-gadang bisa membantu siswa belajar di era digital, justru menjadi pintu masuk kasus korupsi besar-besaran.
Banyak guru dan orang tua merasa kecewa, apalagi jika dana triliunan rupiah yang seharusnya digunakan untuk mendukung pendidikan justru terbuang sia-sia.
Pertanyaan besar pun muncul: bagaimana nasib program Merdeka Belajar dan digitalisasi pendidikan ke depan?Kasus Nadiem Makarim tersangka korupsi mengingatkan kita pada dua hal penting:
-
Transparansi sangat krusial dalam setiap program besar, apalagi menyangkut dana triliunan rupiah.
-
Pengawasan publik tidak boleh longgar. Masyarakat perlu terus kritis terhadap setiap kebijakan, meskipun dipimpin oleh sosok yang populer.
Bagi generasi muda, kasus ini juga jadi pengingat bahwa integritas lebih penting daripada sekadar prestasi atau popularitas.
Kabar Nadiem Makarim tersangka korupsi laptop chromebook bukan lagi sekadar rumor, melainkan fakta hukum yang sedang berjalan.
Dengan kerugian negara yang diperkirakan hampir Rp 2 triliun, kasus ini bakal jadi salah satu perkara korupsi terbesar di sektor pendidikan Indonesia.
Kini semua mata tertuju pada proses hukum yang dijalani Nadiem dan pihak lain yang terlibat. Publik berharap penyidikan dilakukan transparan, adil, dan memberi efek jera.
Yang jelas, kasus ini jadi pengingat bahwa integritas adalah fondasi utama dalam membangun bangsa.