Take a fresh look at your lifestyle.

Saham BUMI Milik Siapa Sebenarnya? Ini Jawabannya

0

WARTAWAN.ID – Pertanyaan tentang saham BUMI milik siapa memang sering muncul di kalangan investor Indonesia.

Wajar saja, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) selama bertahun-tahun menjadi salah satu emiten paling populer di Bursa Efek Indonesia, terutama karena harga sahamnya sempat meroket dan kemudian mengalami penurunan tajam.

Banyak investor penasaran siapa sebenarnya pemilik perusahaan batu bara raksasa ini.

BUMI bukan perusahaan yang asing di dunia investasi. Emiten ini dikenal sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Nama BUMI juga sering dikaitkan dengan Grup Bakrie, sehingga banyak orang mengira seluruh kepemilikan sahamnya dikuasai keluarga Bakrie.

Namun, fakta terbaru menunjukkan bahwa kepemilikan BUMI sekarang jauh lebih kompleks.

Dalam laporan pemegang saham terbaru pihak yang menguasai mayoritas saham BUMI bukan lagi entitas lokal secara langsung.

Kepemilikan terbesar justru berada di tangan perusahaan asal Hong Kong bernama Mach Energy (Hong Kong) Ltd. Perusahaan ini memiliki sekitar 45,78% saham BUMI, menjadikannya sebagai pemegang saham pengendali terbesar.

Selain Mach Energy, nama lain yang tidak kalah besar adalah Treasure Global Investment. Perusahaan ini memegang sekitar 8,08% saham BUMI, jumlah yang cukup signifikan untuk menentukan keputusan korporasi.

Dengan dominasi kedua perusahaan ini, investor ritel tentu penasaran: apakah mereka benar-benar pihak asing?

Meski terlihat seperti perusahaan luar negeri, laporan keuangan dan analisis pasar menunjukkan bahwa penerima manfaat atau pihak yang menikmati kepemilikan sebenarnya merupakan kelompok usaha Bakrie dan Salim.

Artinya, meski memakai nama perusahaan luar negeri, kepemilikan utamanya tidak jauh dari dua konglomerat terbesar di Indonesia tersebut.

Selain dua pemegang mayoritas tersebut, ada investor institusi besar yang juga menguasai sebagian saham BUMI.

BACA JUGA  Penerima Lampu Tenaga Surya di Papua Diverifikasi

Salah satunya adalah Chengdong Investment Corporation melalui rekening HSBC Fund SVS A/C, yang memegang sekitar 7,21% saham.

Kehadiran institusi keuangan internasional menunjukkan bahwa BUMI masih dilirik oleh investor global. Lalu, ada juga UBS Switzerland AG, yang menguasai sekitar 5,10% saham BUMI.

UBS adalah lembaga investasi ternama dunia, dan masuknya mereka dalam daftar pemegang saham besar BUMI menunjukkan kepercayaan terhadap bisnis batu bara ini.

Institusi asing biasanya masuk setelah melakukan studi kelayakan bisnis yang ketat. Tidak hanya itu, Glas Trust (Singapore) Ltd juga menjadi bagian dari pemegang saham besar dengan kepemilikan sekitar 2,08%.

Dengan semakin banyaknya pemegang saham institusi global, struktur kepemilikan BUMI semakin terlihat internasional, dan tidak hanya terpusat pada satu kelompok bisnis.

Bagaimana dengan Grup Bakrie? Grup ini masih ada dalam struktur kepemilikan BUMI melalui PT Bakrie Capital Indonesia. Namun, porsi kepemilikannya kini hanya sekitar 1,18%.

Meski kecil, posisi ini tetap menunjukkan keterlibatan Bakrie dalam perusahaan yang sejak lama melekat dengan namanya.

Tidak kalah penting, sekitar 27% saham BUMI dimiliki publik atau investor ritel. Artinya, masyarakat luas juga memiliki porsi besar dalam perusahaan ini.

Saham publik tersebut mencerminkan minat pasar terhadap BUMI, terutama karena harganya tergolong murah dan kerap menjadi favorit trader harian.

Namun, meski publik memiliki porsi besar, keputusan strategis perusahaan tetap berada di tangan pemegang saham mayoritas.

Dengan Mach Energy sebagai pengendali, keputusan bisnis seperti ekspansi, restrukturisasi, atau kebijakan utang tidak bisa ditentukan oleh investor ritel.

BACA JUGA  Tarif Listrik per kWh 2025 Terbaru Bulan Juli Ini

Banyak yang bertanya, bagaimana Mach Energy bisa muncul sebagai pemegang saham terbesar? Jawabannya berkaitan dengan proses restrukturisasi utang yang berlangsung beberapa tahun lalu.

BUMI mengalami krisis keuangan, sehingga sebagian sahamnya harus dialihkan kepada kreditur luar negeri dalam proses penyelamatan bisnis.

Restrukturisasi itu membuat struktur kepemilikan BUMI berubah drastis. Dari yang awalnya dikuasai kelompok Bakrie, kini didominasi entitas luar negeri.

Namun, perusahaan tetap meneruskan operasinya sebagai produsen batu bara besar, dan para kreditur kini ikut menikmati hasil pemulihan bisnis tersebut.

Masuknya grup Salim dalam struktur kepemilikan juga menarik perhatian. Kedua kelompok bisnis besar ini sebelumnya dikenal menjalankan usaha masing-masing.

Dalam BUMI, keduanya memiliki keterlibatan yang terkait dengan pengambilalihan dan restrukturisasi utang perusahaan.

Dengan struktur pemegang saham seperti ini, banyak analis menilai bahwa BUMI kini lebih stabil dibanding beberapa tahun lalu.

Beban utang yang berat telah dikurangi, dan dukungan finansial dari institusi asing membuat perusahaan lebih siap menjalankan proyek jangka panjang.

Di sisi lain, bisnis batu bara masih menjadi kontroversi karena isu lingkungan. Meski demikian, permintaan global masih tinggi, terutama dari negara-negara Asia seperti Tiongkok dan India. Ini membuat kinerja BUMI masih menarik untuk dilirik investor.

Bagi investor ritel yang ingin membeli saham ini, memahami siapa pemilik BUMI adalah langkah penting sebelum mengambil keputusan.

Struktur kepemilikan bukan hanya soal nama, tetapi menentukan arah corporate action yang bisa mempengaruhi harga saham.

Jadi ketika muncul pertanyaan saham BUMI milik siapa sebenarnya? Intinya bukan hanya satu nama. Kepemilikan perusahaan ini adalah kombinasi antara kreditur asing, dua konglomerat Indonesia, dan publik.

Struktur ini menandakan bahwa BUMI adalah perusahaan yang tidak hanya besar, tetapi juga strategis di mata banyak pihak.

BACA JUGA  Merek Beras Oplosan Apa Saja? Ini 13 Daftarnya yang Diperiksa
Leave A Reply

Your email address will not be published.