Take a fresh look at your lifestyle.

Isi AQUA dari Sumur Bor? Begini Fakta dan Klarifikasinya

0

Kabar air isi AQUA dari sumur bor viral dan jadi perbincangan masyarakar setelah sidak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Simak penjelasan pihak perusahaan tentang sumber air dari akuifer dalam yang sebenarnya.

Belakangan ini jagat maya dihebohkan dengan kabar bahwa air minum AQUA dari sumur bor, bukan dari mata air pegunungan seperti yang selama ini jadi disampaikan perusahaan hingga dipercaya publik sangat lama.

Dalam video yang diunggah ke media sosialnya, Dedi Mulyadi terlihat kaget saat mendengar penjelasan bahwa air AQUA diambil dari bawah tanah dari seorang staf perusahaan yang berada di kawasan Subang, Jawa Barat.

Spontan, video itu langsung viral. Banyak orang yang kemudian mempertanyakan keaslian sumber air merek ternama tersebut. Apakah benar Aqua tidak lagi berasal dari mata air alami seperti yang diklaim selama ini?

Untuk menjawabnya, Wartawan.id bakal membahasnya lebih jauh berikut penjelasan resmi dari pihak Danone Indonesia selaku perusahaan yang memproduksi AQUA yang sudah menjadi produk yang menemani publik.

Awal Mula Isu Sumur Bor AQUA Viral

Semuanya bermula dari sidak Dedi Mulyadi yang terekam dalam video berdurasi beberapa menit. Dalam video itu, Dedi bertanya kepada petugas pabrik tentang dari mana air Aqua diambil.

Salah satu staf menjawab bahwa sumber airnya berasal dari bawah tanah, bukan dari sungai atau air permukaan. Jawaban itu sontak membuat Dedi Mulyadi tampak terkejut.

Orang nomor satu di Jawa Barat itu lalu menanyakan apakah yang dimaksud adalah sumur pompa dalam, istilah teknis yang biasa dipakai untuk pengambilan air tanah lewat pengeboran.

Dari sinilah tudingan AQUA dari sumur bor mulai ramai dibahas dan jadi trending di berbagai platform media sosial.

BACA JUGA  Longsor Gunung Kuda Cirebon, Begini Kronologinya

Publik pun mulai bertanya-tanya apakah AQUA selama ini menyesatkan konsumen dengan klaim air pegunungan? Ataukah ada penjelasan ilmiah di balik istilah air bawah tanah itu?

Menanggapi kehebohan tersebut yang semakin meluas dan mendapat sentimen negatif, pihak Danone Indonesia akhirnya memberikan klarifikasi resmi.

Perusahaan terkemuka itu menjelaskan bahwa sumber air Aqua memang berasal dari bawah tanah, namun bukan dari sumur bor dangkal, melainkan dari akuifer dalam lapisan air tanah yang terletak jauh di bawah permukaan bumi.

Menurut Danone, air dari akuifer dalam itu terlindungi secara alami oleh lapisan batuan dan tanah kedap air, sehingga kualitasnya tetap murni tanpa terkontaminasi.

Perusahaan menyebut kedalamannya bisa mencapai 60 hingga 140 meter tergantung lokasi pabrik. Artinya, proses pengambilan air ini tetap alami dan bukan sekadar “mengebor sumur” sembarangan.

Danone juga menegaskan bahwa setiap sumber air Aqua telah melalui kajian ilmiah dan izin resmi dari lembaga terkait, termasuk Badan Geologi Kementerian ESDM, serta riset bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

Dengan demikian, penggunaan istilah akuifer dalam dinilai masih selaras dengan konsep air pegunungan, karena airnya berasal dari sistem hidrogeologi alami.

Kenapa Disebut Akuifer Dalam, Bukan Mata Air Biasa?

Banyak yang mungkin belum tahu bahwa mata air pegunungan dan akuifer dalam sebenarnya saling berhubungan.

Mata air muncul di permukaan karena adanya tekanan dari lapisan akuifer di bawahnya. Jadi, air yang keluar dari mata air sejatinya juga berasal dari sistem akuifer di dalam bumi.

BACA JUGA  Penanganan AIDS di Indonesia Terancam Terbengkalai

Nah dalam kasus AQUA perusahaan memilih mengambil air langsung dari akuifer dalam, bukan menunggu sampai air itu muncul ke permukaan sebagai mata air.

Proses ini dilakukan untuk menjaga kualitas, kemurnian, dan volume air, apalagi jika mata air alami di permukaan tidak cukup stabil untuk kebutuhan produksi besar.

Meski begitu, perbedaan istilah inilah yang memicu kebingungan di masyarakat. Sebagian orang merasa label “air pegunungan” harus berarti air yang langsung keluar dari mata air alami, bukan yang diambil dengan pengeboran.

Dampak Isu terhadap Citra AQUA

Tak bisa dipungkiri isu AQUA dari sumur bor yang sekarang hangat dibahas cukup mengguncang citra merek yang sudah puluhan tahun dipercaya masyarakat Indonesia.

Sebab, Aqua selalu dikenal lewat kampanye kebaikan alam dan kesegaran air pegunungan. Ketika istilah sumur bor muncul, publik langsung mengasosiasikannya dengan sesuatu yang buatan manusia dan jauh dari kesan alami.

Namun, setelah klarifikasi Danone dirilis, sebagian masyarakat mulai memahami bahwa sumur bor dalam yang dimaksud bukanlah sumur biasa seperti yang digunakan rumah tangga.

Melainkan instalasi teknis untuk mengakses lapisan air alami di kedalaman tertentu. Meski demikian, transparansi tetap jadi kunci.

Banyak pihak berharap Danone bisa lebih terbuka soal lokasi, metode pengambilan air, serta dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

Salah satu kekhawatiran yang muncul dari isu ini adalah dampak terhadap sumber air warga sekitar. Apakah pengambilan air dari akuifer dalam bisa menyebabkan kekeringan atau penurunan muka air tanah?

Danone memastikan bahwa mereka melakukan studi lingkungan berkala dan pemantauan debit air untuk memastikan tidak ada gangguan terhadap keseimbangan alam maupun pasokan air masyarakat.

Selain itu, izin pengambilan air juga diawasi langsung oleh pemerintah daerah serta instansi teknis terkait.

BACA JUGA  Protes Kebijakan Trump, 500 Perempuan Ditahan

Meski begitu, pakar lingkungan tetap mendorong agar perusahaan besar seperti Danone lebih terbuka terhadap publik dan melibatkan lembaga independen untuk melakukan audit sumber daya air secara periodik.

Tujuannya agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga dan potensi konflik bisa dihindari. Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya transparansi informasi di era digital.

Di tengah maraknya media sosial, satu potongan video bisa dengan cepat memicu persepsi negatif yang luas.

Padahal, konteks ilmiah di balik istilah seperti akuifer dalam tidak serta-merta bisa dijelaskan dalam hitungan detik. Bagi perusahaan, kejujuran dalam komunikasi publik menjadi hal yang tak bisa ditawar.

Sementara bagi konsumen, penting juga untuk memahami bahwa istilah teknis di bidang geologi dan sumber daya air sering kali kompleks tidak sesederhana “air dari gunung” versus “air dari sumur.”

Leave A Reply

Your email address will not be published.