Kabar BEM UGM keluar dari BEM SI bikin heboh publik. Dari informasi yang dihimpun, keputusan tersebut dilakukan setelah Munas di Padang dihadiri pejabat parpol, BIN, dan polisi.
Langkah mengejutkan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) ini bukan sekadar reaksi spontan tapi hasil dari pertimbangan panjang yang panjang.
Berdasarkan kabar yang diterima Wartawan.id, BEM UGM merasakan kekecewaan mendalam terhadap arah gerakan aliansi yang dinilai sudah melenceng dari nilai-nilai perjuangan mahasiswa.
Dalam pernyataan resminya, BEM UGM menegaskan bahwa mereka tidak lagi melihat independensi dalam tubuh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI).
Puncaknya terjadi saat Munas BEM SI di Padang, di mana muncul isu kontroversial seperti kehadiran pejabat pemerintah dan perwakilan BIN (Badan Intelijen Negara) di acara internal mahasiswa.
Ini membuat banyak pihak bertanya-tanya: masihkah gerakan ini murni dari mahasiswa untuk rakyat? Selain soal independensi, BEM UGM juga menyoroti adanya dugaan praktik kekerasan dan represi terhadap peserta Munas.
Dua mahasiswa bahkan dilaporkan mengalami luka. Alih-alih menyuarakan kepentingan rakyat dan menjaga semangat kritis, forum tersebut justru berubah menjadi ajang penuh tekanan.
Maka, keputusan keluar ini jadi bentuk perlawanan dan kritik keras dari UGM terhadap arah gerakan mahasiswa yang dianggap “tak lagi berpihak”.
Menurut Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardianto, kehadiran tokoh-tokoh negara dan politikus dianggap “mencederai independensi gerakan mahasiswa” dan memberi kesan bahwa aliansi ini sudah “dibeli” atau “dipolitisasi”.
Dalam surat terbukanya, BEM KM UGM menyebut ada sembilan poin utama yang menjadi dasar keputusan mereka. Intinya:
- Cita-cita awal membentuk BEM SI bukan untuk kontestasi jabatan, tetapi sebagai ruang perjuangan mahasiswa;
- Kehadiran tokoh politik dan aparat negara di Munas menimbulkan ketidaknyamanan;
- Event tersebut berubah jadi ajang pencitraan politik, bukan forum membahas isu nasional;
- Ada indikasi bahwa karangan bunga dari BIN sengaja dipajang saat pembukaan—menambah kesan politisasi;
- Terdapat insiden kekerasan yang menimpa mahasiswa saat Munas, termasuk ada yang patah tulang dan trauma psikis
- BEM UGM merasa BEM SI kehilangan integritas sebagai gerakan rakyat.
Dan lima poin lainnya yang menggarisbawahi bahwa mereka tidak ingin ikut dalam forum yang sudah “terkontaminasi” kekuasaan.
Salah satu alasan paling berat adalah soal kericuhan yang terjadi saat Munas. Terdapat laporan dua mahasiswa mengalami cedera fisik satu patah tulang, dan satunya didera lebam dan bibir berdarah.
Selain itu, sejumlah peserta juga mengalami trauma psikis akibat tekanan dan intimidasi saat acara berlangsung.
Kejadian ini bikin UGM semakin yakin untuk menyatakan mundur demi menjaga nilai-nilai dan keselamatan mahasiswa.
Langkah ini sebenarnya bikin gelombang saat UGM mundur, BEM Undip pun ikut menyusul keesokan harinya.
Dua kampus besar ini jadi sinyal bahwa mungkin ada gerakan lebih luas di kalangan mahasiswa untuk mempertahankan kemandirian dan menghindari intervensi politik.
Keluar dari aliansi bukan berarti menolak kolaborasi, tapi lebih ke memilih konsistensi dan integritas gerakan agar suara mahasiswa tetap disuarakan tanpa embel-embel kekuasaan.
BEM KM UGM pun menegaskan mantra mereka: “BEM KM UGM NOT FOR SALE”
Respon warganet dan mahasiswa lainnya cukup beragam menyikapi langkah BEM UGM keluar dari BEM SI. Banyak yang menghargai keberanian itu karena menegakkan independensi.
Di sisi lain, sebagian menilai mobilisasi politik dalam kampus sifatnya alami dan bahkan dibutuhkan untuk memperoleh akses pada pengambil kebijakan.
Namun dengan adanya laporan kekerasan, pihak pro-independensi semakin semangat berpendapat bahwa gerakan mahasiswa harus bebas dari tangan kekuasaan.
Penting juga dicatat bahwa aduan soal kehadiran pejabat itu kontekstual. Menurut panitia Munas, pejabat hadir sebagai bagian dari seremoni Forkopimda dan perizinan dari pemerintah daerah.
Meskipun karangan bunga sempat dipasang dan kemudian disadari tidak pantas. Tapi, bagi UGM, soal etikanya sudah mendarah daging.
Keputusan ini BEM KM UGM menunjukkan sikap tegas untuk menjaga tata nilai integritas, independensi, dan keselamatan dalam satu misi gerakan mahasiswa.
Langkah BEM UGM keluar dari BEM SI mengundang mahasiswa lain untuk “refleksi” soal arah dan peran mahasiswa nasional.