Take a fresh look at your lifestyle.

TPST Bantar Gebang Longsor, Pencarian Korban Tewas Masih Berlanjut

0

WARTAWAN.ID – Peristiwa TPST Bantar Gebang longsor kembali menjadi sorotan publik setelah gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, runtuh dan menimbulkan korban jiwa.

Insiden ini memicu operasi pencarian besar-besaran oleh tim SAR gabungan karena diduga masih ada korban yang tertimbun material longsoran sampah.

Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 8 Maret 2026 sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu, sejumlah truk sampah sedang mengantre untuk membongkar muatan ketika gunungan sampah tiba-tiba runtuh dan menimpa area sekitar.

Longsoran tersebut menutup akses jalan serta menimpa warung dan kendaraan yang berada di lokasi.

Kejadian ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga kembali membuka diskusi mengenai risiko besar yang mengintai di kawasan pembuangan sampah terbesar di Indonesia tersebut.

Menurut keterangan aparat kepolisian, peristiwa TPST Bantar Gebang longsor bermula dari teriakan warga yang melihat gunungan sampah mulai bergerak. Tak lama kemudian, timbunan sampah runtuh dan menimbun sejumlah orang yang berada di sekitar lokasi.

Material longsoran sampah disebut menimpa beberapa warung kecil serta truk pengangkut sampah yang sedang berada di area tersebut. Karena terjadi secara tiba-tiba, banyak orang tidak sempat menyelamatkan diri.

Petugas dari kepolisian, BPBD, hingga tim SAR langsung menuju lokasi setelah menerima laporan dari warga. Area longsor kemudian dipasangi garis polisi untuk memudahkan proses evakuasi dan mencegah masyarakat mendekat ke lokasi berbahaya.

Korban Jiwa dalam Insiden Longsor

Insiden TPST Bantar Gebang longsor menyebabkan beberapa korban meninggal dunia. Data sementara menunjukkan empat orang tewas setelah tertimbun material sampah.

Korban diketahui berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan yang beraktivitas di lokasi tersebut, mulai dari pemulung hingga sopir truk sampah.

BACA JUGA  Prabowo: Kita Siap Mati untuk Negara

Selain korban meninggal, beberapa orang juga dilaporkan selamat dari peristiwa tersebut. Namun pihak kepolisian memperkirakan masih ada korban lain yang tertimbun di bawah tumpukan sampah.

Berdasarkan data sementara dari aparat, jumlah korban yang diduga tertimbun bisa mencapai sekitar 10 orang yang terdiri dari sopir truk sampah dan warga sekitar yang bekerja sebagai pemulung.

Proses pencarian korban dalam peristiwa TPST Bantar Gebang longsor melibatkan berbagai instansi, mulai dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, hingga petugas Dinas Lingkungan Hidup.

Alat berat seperti ekskavator digunakan untuk mengangkat material longsoran sampah yang menumpuk di lokasi kejadian. Selain itu, tim penyelamat juga melakukan pencarian manual untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat.

Petugas harus bekerja dengan sangat hati-hati karena kondisi gunungan sampah yang tidak stabil dapat memicu longsor susulan. Oleh karena itu, proses evakuasi dilakukan secara bertahap sambil terus memantau kondisi di lokasi.

Hingga saat ini, operasi pencarian masih berlangsung untuk memastikan seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi dengan aman.

Gunungan Sampah di Bantar Gebang

TPST Bantargebang selama ini dikenal sebagai tempat pembuangan sampah utama bagi Jakarta. Setiap harinya, ribuan ton sampah dari ibu kota diangkut menggunakan truk menuju kawasan ini.

Akibat volume sampah yang sangat besar, kawasan tersebut memiliki timbunan sampah raksasa yang sering disebut sebagai gunung sampah. Bahkan tinggi gunungan sampah di beberapa zona dapat mencapai puluhan meter.

Dalam peristiwa terbaru ini, longsor dilaporkan terjadi pada timbunan sampah setinggi sekitar 50 meter di salah satu zona TPST Bantargebang.

BACA JUGA  Joging di GBK, Ini Pesan Cak Imin untuk Atlet Indonesia

Peristiwa longsor sampah di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Dalam sejarah pengelolaan sampah di Tanah Air, pernah terjadi tragedi besar yang menewaskan ratusan orang akibat longsoran gunung sampah.

Dalam salah satu kejadian besar, sekitar 157 orang dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun longsor sampah yang digambarkan seperti tsunami sampah.

Tragedi tersebut sering dijadikan pengingat bahwa pengelolaan sampah yang tidak aman dapat berujung pada bencana besar.

Karena itu, insiden terbaru di Bantargebang kembali memunculkan kekhawatiran akan potensi risiko serupa jika tidak ada perbaikan sistem pengelolaan sampah.

Risiko bagi Pekerja dan Pemulung

Di kawasan TPST Bantargebang, ribuan orang menggantungkan hidup dari aktivitas pengelolaan sampah. Mereka bekerja sebagai pemulung, sopir truk, pedagang kecil, maupun pekerja informal lainnya.

Banyak dari mereka beraktivitas sangat dekat dengan gunungan sampah yang tinggi dan tidak selalu stabil. Ketika terjadi longsor seperti dalam peristiwa ini, kelompok tersebut menjadi yang paling rentan terkena dampaknya.

Insiden ini kembali menyoroti pentingnya sistem keselamatan kerja yang lebih baik di kawasan pengolahan sampah.

Peristiwa TPST Bantar Gebang longsor juga memicu berbagai pihak untuk mengevaluasi sistem pengelolaan sampah di Jakarta.

Selama ini, metode penumpukan sampah atau landfill masih menjadi cara utama dalam pengelolaan sampah. Namun sistem tersebut memiliki risiko tinggi jika volume sampah terus meningkat tanpa pengelolaan yang lebih modern.

Beberapa ahli menilai bahwa pengolahan sampah perlu beralih ke teknologi yang lebih maju, seperti pengolahan sampah menjadi energi, daur ulang skala besar, hingga pengurangan sampah dari sumbernya.

Dengan sistem yang lebih modern, volume sampah yang harus ditimbun dapat berkurang sehingga risiko longsor juga bisa diminimalkan.

Momentum Perbaikan Sistem Pengelolaan Sampah

BACA JUGA  Keganasan Badai Lidia Tewaskan Tujuh Warga

Insiden TPST Bantar Gebang longsor menjadi pengingat bahwa persoalan sampah di kota besar tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah kecil.

Jika tidak ada perubahan dalam sistem pengelolaan sampah, tempat pembuangan akhir seperti Bantargebang akan terus menghadapi tekanan yang semakin besar.

Karena itu, banyak pihak berharap peristiwa ini menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh, baik dari sisi teknologi, regulasi, maupun kesadaran masyarakat.

Dengan pengelolaan yang lebih aman dan berkelanjutan, tragedi serupa di masa depan diharapkan dapat dicegah sekaligus melindungi keselamatan para pekerja dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan TPST Bantargebang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.