Bandung kota termacet di Indonesia tahun 2024 versi TomTom. Waktu tempuh untuk 10 km capai 32 menit, simak data lengkap, penyebab dan solusi yang perlu disiapkan pemerintah.
Ngomongin soal Bandung, pasti yang langsung kepikiran itu udara sejuk, kuliner enak, tempat wisata kece, sampai suasana kota yang artistik. Tapi kini hal itu belum lengkap ternyata.
Di balik semua keindahan yang ada di kota yang memiliki 30 kecamatan itu, ada satu hal yang bikin warga dan wisatawan garuk-garuk kepala sebab macetnya yang tingkat tinggi.
Dan sekarang, fakta itu udah bukan sekadar keluhan doang. Berdasarkan data dari TomTom Traffic Index 2024, Bandung resmi dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia ngalahin Jakarta.
Lho, kok bisa? Berikut data yang dihimpun Wartawan.id kenapa Bandung bisa menyandang predikat itu. Seberapa parah kemacetannya, dan apa yang bisa dilakukan biar nggak makin kacau.
Menurut laporan dari TomTom Traffic Index, lembaga internasional yang mengukur tingkat kemacetan kota-kota besar dunia, Bandung menempati peringkat pertama kota termacet di Indonesia tahun 2024.
Angka yang dicatat TomTom cukup bikin melongo, antara lain:
- Rata-rata waktu tempuh kendaraan 32 menit 37 detik per 10 kilometer
- Persentase kemacetan 48 persen
- Puncak kemacetan terjadi pada pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB
Artinya, setiap kali kamu berkendara sejauh 10 km di Bandung, waktu yang dibutuhkan bisa hampir dua kali lipat dari normal. Nggak heran kalau warga Bandung mulai gerah dan wisatawan pun banyak yang ogah datang.
Jakarta kalah dari Bandung? Iya, kamu nggak salah baca. Jakarta yang selama ini identik banget dengan macet, justru menempati posisi kelima dalam daftar kota termacet di Indonesia versi TomTom.
Sementara di bawah Bandung, posisi dua, tiga, dan empat kota termacet di Indonesia ditempati oleh Semarang, Surabaya, dan Medan.
Ini bikin banyak orang tercengang, termasuk Wali Kota Bandung yang juga Mantan Anggota DPR RI Muhammad Farhan, yang bilang secara terang-terangan dirinya malu.
Menurutnya, kemacetan Bandung ini udah sampai tahap darurat. Jalanan nggak lagi nyaman, waktu produktif warga kebuang di kendaraan, dan polusi makin parah.
Bahkan, kata Farhan, ada sekitar 2,3 juta kendaraan beroperasi di Bandung, padahal jumlah penduduknya “cuma” 2,6 juta. Gimana nggak krodit coba?
Kemacetan di Bandung sebenarnya udah jadi masalah tahunan, tapi beberapa tahun terakhir ini makin sulit dikendalikan. Ada beberapa faktor penyebab utamanya:
- Jumlah Kendaraan Terus Bertambah
Pertumbuhan kendaraan pribadi jauh lebih cepat dari penambahan kapasitas jalan. Data terbaru menunjukkan bahwa tiap tahun, pertambahan kendaraan di Bandung bisa mencapai 5–7 persen. Sementara itu, pelebaran jalan atau pembangunan alternatif nyaris stagnan. - Wisatawan Membludak
Bandung adalah kota wisata. Setiap akhir pekan, ribuan kendaraan dari luar kota masuk ke wilayah Bandung, terutama dari Jakarta dan sekitarnya. Apalagi kalau libur panjang, jangan harap bisa jalan lancar. - Minimnya Transportasi Publik yang Terintegrasi
Masih banyak warga dan wisatawan yang merasa angkot atau bus kota nggak nyaman atau nggak praktis. Alhasil, mobil dan motor pribadi jadi pilihan utama. Padahal ini justru bikin beban jalan semakin berat. - Pembangunan Tak Terkendali
Banyaknya mal, hotel, dan apartemen baru di pusat kota juga jadi pemicu. Banyak bangunan berdiri tanpa perencanaan lalu lintas yang matang. Akibatnya, parkir sembarangan dan penumpukan kendaraan makin sering terjadi.
Kalau kamu sering wara-wiri di Bandung, pasti udah familiar sama beberapa titik macet legendaris ini. meliputi:
- Jalan Pasteur (akses tol keluar/masuk Bandung)
- Jalan Setiabudi – Lembang (rute wisata favorit)
- Dago Atas – Cihampelas
- Alun-Alun – Braga – Asia Afrika
- Jalan Soekarno-Hatta – Buah Batu
Kemacetan di titik-titik ini bisa berlangsung hingga 2–3 jam, terutama di akhir pekan atau jam pulang kerja. Kadang, untuk jarak cuma 5 km, waktu tempuh bisa tembus satu jam lebih!
Kemacetan di Bandung bukan hal yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Tapi ada beberapa solusi jangka pendek dan panjang yang bisa jadi jalan keluar. Antara lain:
- Penguatan Transportasi Umum
BRT, LRT, atau bahkan sistem feeder transportasi ke permukiman bisa bantu kurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. - Regulasi Pembatasan Kendaraan
Kebijakan ganjil-genap atau pembatasan mobil berdasarkan plat nomor bisa diuji coba di titik-titik padat. - Revitalisasi Infrastruktur
Flyover, pelebaran jalan, dan penambahan jalur khusus kendaraan umum harus dipercepat realisasinya. - Edukasi Warga
Masyarakat juga harus didorong untuk lebih sadar soal pentingnya naik kendaraan umum, carpooling, atau bahkan bersepeda.
Bandung memang tetap jadi kota yang dicintai banyak orang. Suasananya unik, hawanya adem, dan pilihan wisatanya segudang. Tapi, predikat kota termacet di Indonesia jelas jadi tamparan keras.
Kalau nggak ada langkah serius dari semua pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat bukan nggak mungkin kondisi ini makin parah dan bikin Bandung kehilangan daya tariknya.
Setelah gemparnya predikat Bandung jadi kota termacet di Indonesia yuk sama-sama jaga Bandung. Kurangi naik kendaraan pribadi kalau bisa, kemudian pilih transportasi publik,