Take a fresh look at your lifestyle.

Apresiasi Sri Mulyani, Pengamat: Banyak Manfaat Penerbitan USD Bond dan Kerjasama FED

0 2
Apresiasi Sri Mulyani, Pengamat: Banyak Manfaat Penerbitan USD Bond dan Kerjasama FED

Para siswa adik kelas Menteri Keuangan Sri Mulyani sedang minta tanda tangan (Foto: Kemenkeu)

Jakarta, Jurnas.com – Pengamat Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat memaparkan sejumlah keuntungan yang didapat Indonesia, setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) menerbitkan kembali surat utang sebagai respon akibat pandemi Covid-19 atau wabah virus Corona. 

Menurut Achmad, banyak manfaat yang didapat atas penerbitan US Dollar Bond tersebut. Diantaranya adalah tersedianya pendanaan sebesar hampir Rp70 Triliun untuk APBN 2020.

“Dengan dana tersebut Indonesia bisa bernafas sedikit lega untuk memberikan stimulus ekonomi kepada individu dan perusahaan yang terdampak CV19,” kata Achmad, Rabu (8/4/2020).

Manfaat lainnya, jelas Achmad, adalah cadangan devisa (caved) BI bertambah 4.3 miliar USD. Bulan Maret lalu cadev telah berkurang 9.4 miliar USD ke level 120.97 miliar USD (Bulan Februari sebelumnya cadev 130.3 miliar USD).

“Peningkatan cadev diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pasar terhadap Indonesia. Dampak kepercayaan tersebut akhirnya dapat menguatkan nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Dalam situasi yang demikian, kata Achmad, nilai tukar diprediksi dapat menguat ke level 15.000 di akhir tahun 2020. Saat ini rupiah di level Rp 16.112 masih diatas dari nilai fundamental rupiah yang sebenarnya.

Penguatan rupiah terjadi juga karena sentimen positif kerjasama repurchase aggrement (repo) 60 miliar USD antara Bank Indonesia (BI) dengan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve manakala terjadi penurunan cadangan devisa. Kerjasama tersebut merupakan tambahan capital buffer untuk Bank Indonesia.

Sebelumnya BI telah memiliki kerjasama currency swap dengan China (30 miliar USD), dengan Jepang (22.7 miliar USD) dan dengan Singapura (10 miliar USD), Tambahan kerjasama repo dengan the FED AS sebesar (60 miliar USD) akan menambah ketahanan keuangan Indonesia melalui cadangan devisa.

Ekonomi Indonesia selama Maret 2020 sangat mengkhawatirkan sekali. Rupiah anjlok 15% (mtm) karena investor distrust kepada Indonesia, Yield SBN 10 tahun jatuh 4 basis poin ke level 8.16% dan defisit transaksi berjalan melebar ke level 2.88% PDB. Situasi tersebut sangat merugikan ekonomi Indonesia.

Achmad mengatakan, dalam bingkai kebijakan publik, alasan untuk memperbaiki situasi ekonomi Maret 2020 tersebut melalui kerjasama repo BI-FED 60 miliar USD dan penerbitkan global bond 4.3 miliar USD adalah tindakan berani dan beralasan, meskipun dilihat dari sisi cost of fund, kerjasama tersebut terbilang mahal.

Bila otoritas cukup pintar, maka seharusnya mencari pembiayaan global bond berdenominasi dalam EURO karena yield bond-nya lebih rendah di level 1.9-3.0% daripada yield berdenominasi USD di level 3.9-4.5% dengan tenor yang kurang lebih sama.

“Jumlah selisih yield tersebut sangat signifikan bila nilai tukar rupiah anjlok seperti Maret 2020 sebesar 15%. Selisihnya pembayaran menggunakan EURO dapat lebih murah 30%-93% daripada menggunakan USD. Bila rupiah anjloknya lebih dari 50% maka Indonesia membayar kupon global bond double (2x) lebih mahal dengan USD daripada dengan EURO,” papar Achmad.

Meski demikian, ia mengatakan bila Kemenkeu menerbitkannya dalam EURO, bisa jadi Bank Indonesia tidak dapat privillege untuk melakukan kerjasama repo 60 miliar USD dengan Federal Reserve (FED), Bank sentral AS.

“Tidak banyak negara berkembang yang mendapatkan fasilitas dari FED. Biar bagaimanapun mendapatkan fasilitas dengan FED adalah keuntungan besar bagi reputasi rupiah di masa depan karena secara de facto, FED tidak pernah memiliki kesulitan likuditas dolarnya,” kata Achmad.

“Patut diingat FED adalah satu-satunya bank sentral yang memiliki kewenangan mencetak mata uang dolar AS sebagai mata uang yang paling dicari pasar dunia,” ungkapnya.

Bagi Achmad, memiliki kerjasama dengan FED seolah-olah Rupiah dibackup oleh otoritas keuangan AS, sehingga rupiah akan stabil di masa depan.

“Sebuah strategi yang brilian sekaligus menunjukan kedekatan ekonomi Indonesia yang lebih intim dengan ekonomi Amerika,” tuntas Achmad.

TAGS : Sri Mulyani Penerbitan US Dollar Bond Covid-19

This article is automatically posted by WP-AutoPost Plugin

Source URL:http://www.jurnas.com/artikel/70264/Apresiasi-Sri-Mulyani-Pengamat-Banyak-Manfaat-Penerbitan-USD-Bond-dan-Kerjasama-FED/

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments